16 September 2011

Pembudayaan Matematika Di Sekolah

Untuk Mencapai Keunggulan Bangsa

Oleh Marsigit

Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Summary by: Aris kartikasari

In learning mathematics, we should know about objects and methods. Something that we think is an objects, and the way how to think about an object is a method. Mathematical objects are divided into two, namely in the form of material objects, in this case is concrete objects. And the second is the formal object, or mathematics itself. That is something that exists in our minds and are abstract. Abstract objects can be studied in two ways, namely abstraction and idealization. Abstraction is an activity in which only take certain properties only to think or learn. Idealization is considered the perfect activity of existing properties.

Katagiri (2004) describes that mathematical thinking involves three aspects: first, the attitude of mathematics, second, and third methods of mathematical thinking, mathematical content. So think of mathematics as well stretch on mathematical thinking in its dimensions, meaning there is to think of mathematics in schools / materials, or college / formal. In general, mathematics attitude shown by the indicators of sincere pleasure and to learn mathematics, attitudes that support for the study of mathematics, knowledge is sufficient to study mathematics, curiosity, will to ask, will to acquire mathematical skills and experience.

Explicitly based on mathematical acculturation: (1) knowledge of mathematics in various dimensions, which include the nature, justification and occurrence, (2) mathematical objects in various dimensions which include the nature and origin, (3) the use of formal mathematics, including its effectiveness in science, technology and other sciences, and (4) practices on various dimensions of mathematics more generally, including the activities of the mathematician or mathematical activity of elementary school students.

Ebbutt, S and Straker, A., (1995) defines school mathematics as: (1) mathematics is an activity tracking activity patterns and relationships, (2) mathematical activities require creativity, imagination, intuition and invention, (3) activities and results- mathematical results need to be communicated, (4) activities are part of the problem solving mathematical activities, (5) algorithm is a procedure to obtain the answers to math problems, and (6) social interaction is required in mathematical activities. Acculturation of mathematics in schools can emphasize the human relationships in the dimensions and appreciate individual differences in both the ability and pangalamannya. If mathematics is seen as absolute truth and certainty, but individuals are particularly prominent role in achievement. But students can be viewed as an evolving creature (progress).

The basic elements of mathematics is an activity hermenitika civilizing communicate mathematics in various dimensions. Communication can be defined as various forms of the vitality of relational potentials between subjects, subject-object, object-subject or objects. Form of consciousness has meaning and vitality into the changes, parallel or out of self-potential. Immanuel Kant (1724) divide the communication of mathematics, such that: material mathematics, formal mathematics, normatif mathematics and spiritual mathematics.

read more “ ”

(*bunda*)

tadi malam aku bermimpi tentang bunda, entah kenapa akhir2 ini aku kehilangan bunda dan rinduuu sekali sama beliau.. akhir2 ini aku dan bunda memang agak tertutup, rasanya gak bisa lagi cerita macem2 sama bunda, entah apa yang membuat aku dan bundaku jauh.
pernah suatu ketika, ada suatu film, dimana si ibu benar2 sayang sama anaknya, disentuh dan dibelai berulang kali rambut si anak, lalu seorang teman mengomentari adegan itu, dia berkata:" waaaah, ibunya mirip dengan ibuku, terlihat begitu keibuan, begitu sayang dengan anaknya, seperti ibuku yang selalu menyentuh dan membelai rambutku.."
aku menerawang jauh ke depan sanaaa, jauh dari pandangan, pada suatu sudut yang sangat dekat denganku, melihat ke dalam hatiku. 10-17 tahun yang lalu bunda juga melakukan hal yang sama, selalu membelai rambutku, mengajari aku banyak hal tentang nyanyian, do'a, matematika, tentang kehidupan yang akan aku jalani. setiap saat aku menangis bunda yang mengusap air mataku, mengelus rambutku, dan terkadang mengalah dan membuat tubuhnya sakit hanya untukku, rela menundukkan badannya saat aku bersembunyi dan menangis dibawah tempat tidurku. padahal saat itu kondisui bunda sedang mengandung si kecil(adikku).
sejak kecil, aku memang sangat dekat dengan bunda, hangat kalo berada didekat bunda, nyaman, dan aman.
namun, sekarang kedekatan kami semakin berkurang, aku tinggal jauh darinya. tiap kali ada di rumah tidak bisa sebebas dulu, bunda lebih sering bersama dengan si kecil. terkadang aku mulai bete saat bunda tidak lagi mendengar ceritaku, ya,, mungkin aku cemburu.
saat awal kuliah, tiap aku akan berangkat ke Jogja, selalu ada air keluar dari ujung-ujung bola matanya, memelukku, mencium kedua pipiku, dan aku melihat keinginan dari buna untuk tetap berada di sampingku. tapi sekarang, bunda bisa melepasku dengan senyum, membiarkanku meninggalkannya. seperti ingin aku cepat pergi.

aku sering berpikir, kenapa bunda berubah? apa dia sudah tidak sayang lagi pada anaknya ini? kenapa bunda tidak mau lagi mendengar ceritaku? apakah dia bosan? kenapa bunda tidak lagi menangisi kepergianku ke Jogja? apa bunda merasa tidak bahagia saat aku berada di rumah??
aku terus berpikir, dan beberapa saat aku bete saat ingat bunda.

tapi mimpi semalam kembali mengingatkanku akan bunda, aku benar2 rindu sama bunda. aku mengerti, tidak ada yang berubah dari bunda, bunda masih sayang denganku, yang berbeda hanyalah, aku yang sudah mulai beranjak dewasa, dan harus mulai menentukan hidupku sendiri. bunda ingin aku menjadi anak yang tegar dan teguh.
aku berharap bisa ketemu bunda..
terimakasih bunda
(peluk cium*)
read more “(*bunda*)”
expression

ada dua hal yang paling berbahaya dalam hidup ini, yang pertama adalah akan berbahaya jika kita terus mempertahankannya, tapi yang kedua akan berbahaya jika kita melepaskannya. keduanya dapat menjadikan seorang manusia menjadi sosok yang rendah dan begitu tidak ada harganya..
keragu-raguan adalah hal yang berbahaya jika kita terus mempertahankannya.keragu-raguan lebih daripada ketidakpercayaan, dalam keraguan ada suatu kepercayaan dan ada juga suatu ketidakpercayaan. kedua hal yang sangat bertolak belakang diantara keduanya. dan hal yang seharusnya memang berbeda.
saat jiwa seseorang dilanda keraguan, saat itulah ia kehilangan arah dalam hidupnya. itulah yang berbahaya, saat kita terombang-ambing, tidak tahu harus berbuat apa, dan pada akhirnya kita melakukan sesuatu yang teramat buruk dalam hidup kita, tanpa tahu itu sesuatu yang benar atau bahkan salah sama sekali. namun, tidak ada hal yang benar satupun dalam keragu-raguan, karena sesuatu yang hak itu saat kita percaya, saat kita yakin dan memiliki iman, yakin kepada sang Khalik yang telah menciptakan suatu iman dalam hati seseorang. tidak ada lagi keraguan untuk hal itu, dan saat kepercayaan terhadap Dia ada dalam hati kita, itulah saat dimana keragu-raguan hilang dari hidup kita. maka bertanyalah pada seseorang yang lebih tahu untuk menentukan langkah, namun jika tidak mendapat jawaban, maka bertanyalah pada hati, karena dia mengetahui.^^
hal yang kedua, hal yang berbahaya jika kita melepaskannya. yaitu saat kita melepaskan dan melupakan janji kita terhadap seseorang, bahkan terhadap diri kita sendiri. saat kita lalai dari janji-janji kita. saat janji itu terabaikan, maka saat itulah segala hal dalam hidup kita tidak ada artinya lagi. saat kita masih di dalam kandungan ibu, saat itu kita telah berjanji kepada Nya, pada Alloh untuk menjaga amanahnya, menjaga kehidupan yang telah Dia berikan untuk kita. dihadapan Nya kita berjanji untuk memenuhi kewajiban kita sebagai manusia. ada beberapa orang di luar sana yang begitu memenuhi janji itu, menggenggamnya erat dalam dekapan tangannya, namun lebih banyak yang melupakan janji-janji itu, dan saat itulah, saat kita tidak menjaga janji-janji itu, kita telah menjadi orang yang lalai. Naudzubillah..
semoga kita dijauhkan dari dua hal itu, dan hal bathil lainnya..amiiinn...^^
read more “ ”

12 September 2011

L(','L)

hidup itu selalu merupakan pilihan, setiap keputusan yang kita pilih mempunyai keistimewaan, kebaikan, kekurangan, resiko dan konsekuensi yang harus kita pegang. hal yang berat saat harus memilih. kita selalu berpikir yang terbaik untuk kita adalah apa yang kita inginkan, tapi apakah kita sebegitu yakinnya bahwa apa yang kita inginkan itu adalah apa yang terbaik menurut Alloh? apakah jika kita menginginkan kekayaan, lalu Alloh memberikannya pada kehidupan kita, lalu kita akan bertambah syukur pada Nya?mungkin iya untuk SEGELINTIR orang saja. namun banyak kita melihat orang-orang yang tidak menyadari apa yang telah dia miliki, apa yang dulu menjadi do'anya dan telah terkabul tanpa ia sadari. Bahkan hal yang paling simpel, mudah untuk dilakukan, dan dilupakan adalah untuk berucap syukur.
kadang, saat dalam keadaan miskin harta, saat itulah kita kaya akan rasa syukur, namun saat kekayaan merajai diri kita, bahkan kita lupa untuk sekedar berucap 'alhamdulillah'. mereka yang mendapat amanah berupa kekayaan dan jabatan terkadang melupakan tujuan awal dan janji mereka saat mereka menginginkan amanah itu. bahkan banyak yang menyelewengkan amanah itu. sebenarnya apa yang ada dalam pikiran mereka, tidakkah mereka mengingat tujuan awal mereka? tidakkah mereka puas atas apa yang mereka miliki sekarang? apakah terlalu susah untuk berucap syukur? sementara banyak manusia-manusia dibawah sana yang selalu memandang ke atas, menjulurkan tangan mereka untuk meminta uluran dari manusia-manusia yang berada di atas. namun, mungkin yang di atas itu tidak melihat, bahkan telah buta mata hatinya. kawan, apa yang kita inginkan belum tentu akan menjadi apa yang terbaik untuk kita. yang terbaik untuk kita adalah menjadi manusia yang selalu bersyukur, apapun keadaan kita. semoga kita semua selalu dalam keadaan bersyukur.^^
read more “L(','L)”

11 September 2011


The Effort to Increase the Student’s Motivation 
in Mathematics Learning with Some Teaching Aids 
in Junior High School 5 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
By: Marsigit & Ida Supadmi
Ihtisar oleh: Aris Kartikasari

Sebagai faktor yang paling berpengaruh dalam proses belajar mengajar di kelas, guru haruslah mampu berperan sebagai informator, komunikator, dan fasilitator. Metode mengajar  digunakan oleh guru bisa melakukan interaksi antara guru, siswa, dan  prestasi belajar. Upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi siswa, khususnya dalam belajar matematika adalah dengan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan, menarik, dan berkaitan dengan kehidupan nyata. Pada tingkat smp yang menurut teori kognitif dari Peaget mulai bermunculan ide-ide untuk membandingkan, mendiskusikan, dan membuat kesimpulan, maka model pembelajaran permainan kartu merupakan model yang tepat diberikan kepada siswa tingkat smp. Model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan kesempatan kepada siswa mencari sendiri jalan keluar dari suatu permasalahan yang dihadapi siswa.
Melalui penelitian yang dilakukan oleh Drs. Marsigit, MA bersama dengan guru matematika di SMP 5 Wates Kabupaten Kulon Progo, penelitian dilakukan di kelas IIA, penelitian tersebut memiliki tiga siklus untuk tiga topik materi, yaitu akar kuadrat, garis sejajar, dan teorema phytagoras. Indikator dari penelitian tersebut adalah adanya peningkatan tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Metode yang digunakan untuk ketiga topik tersebut adalah metode permainan kartu untuk akar kuadrat, sedangkan untuk garis sejajar dan teorema phytagoras, guru menggunakan masalah dalam kehidupan sehari-hari, yaitu melalui tembok ruang kelas dan lantai.
Hasil pengamatan diambil selama proses belajar-mengajar yang dijalankan  menunjukkan bahwa minat siswa dalam pembelajaran tersebut sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam mengerjakan worksheet saat sesi tanya jawab, diskusi, ada begitu banyak siswa yang mengangkat tangan mereka, yang menunjukkan keinginan mereka yang sangat kuat untuk menjawab pertanyaan dan memberikan tanggapan mereka mengenai soal yang diberikan.
Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat dipastikan bahwa untuk mengajarkan matematika kepada siswa, tidaklah harus dengan metode pengajaran yang formal, dan metode menjelaskan, akan tetapi lebih baik apabila metode pembelajaran matematika lebih bervariasi yang memungkinkan siswa tidak merasa jenuh dan mampu mengembangkan pikirannya sendiri.
read more “ ”

10 September 2011


“INOVASI PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN GAIRAH
SISWA DALAM BELAJAR”
Oleh : Drs. Marsigit MA
(FMIPA UNY)
Summary by: Aris Kartikasari (09313244005)

Managing teaching learning is not a simple problem. At least four point of view what we should do to manage teaching learning process ( Kuhs and Ball, 1986 in Grouws, 1992) :
1.      The group that believes that learning should be emphasized on understanding the material (content focused – conceptual understanding);
2.      Groups who argue that learning needs give priority to the learning outcomes (content focus - performance);
3.      The group that believes that learning should learner-centric subjects, so that they can develop and build knowledge (learner focus - construction);
4.       The group that believes that learning should starting from the planning of classroom management that is conducive to learning (classroom focused - effective classroom)
To promote the innovation of learning, Cocroft Report (1982: 132) recommends that for every level of education, learning should provide opportunities for teachers to using the choice of teaching methods are adjusted with the level of students abilities such as: method of exposition by the teacher, discussion method, problem solving method, discovery metdod, basic training skill and principles, and also application method.
 There are three aspects that the teacher have to pay attention, cognitive aspect, affective aspect, and psycomotor aspect.
Development of Cognitive Aspects Ebbutt and Straker (1995: 60-75), gave his view that in order potential students can be optimally developed, assumptions about the characteristics of students and implications for learning is given as follows:
·         The students will learn if they have the motivation
·         The students studying in their own way
·         The students learn both independently and through cooperation with friend
·         The students need the context and circumstances that vary in their study
There are several classifications (taxonomy) affective aspects, such as taxonomy
by krathwhol, et al (1981) and taxonomy by Wilson (1971). According to Krathwhol affective aspects include receiveing, responding, formating of values, the organization and characterization.
In addition to aspects of cognitive and affective aspects, aspects of psycomotor skills (Performance) also have an equally important role for know the student's skills in solving problems.

read more “ ”

Developing Teacher Training Textbooks for Lesson Study
in Indonesia
By 
Marsigit
ihtisar oleh: Aris Kartikasari(09313244005)
10 september 2011
Menyediakan buku atau buku tulis merupakan masalah penting dalam rengka meningkatkan proses belajar mengajar. Hal yang dapat dilakukan dalam penyediaan buku adalah pemilihan buku tidak hanya diserahkan kepada suatu instansi, akan tetapi membiarkan setiap sekolah untuk memilih sendiri buku-buku yang dibutuhkan untuk kegiatan belajar mengajar.
Kemampuan siswa di Indonesia dalam pelajaran matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam masih rendah, Fakta ini sebagai akibat dari: (1) kekurangan kegiatan di  laboratorium; (2) kurangnya
guru yang memiliki kemapuan untuk melakukan pendekatan terhadap siswa , (3)konten dari kurikulum matematika dan IPA terlalu susah; (4) banyaknya ketentuan administrasi untuk guru ; (5) kurangnya peralatan laboratorium dan sumber daya laboratorium manusia.
Pengembangan kurikulum membutuhkan studi komprehensif dan mendalam terhadap semua aspek yang terlibat di dalamnya. Setidaknya ada enam prinsip sebagai panduan (Marsigit, 2003) yaitu: 1) memberikan kesempatan untuk belajar matematika kepada setiap peserta didika, 2) kurikulum bukanlah sekedar kumpulan materi tetapi harus mencerminkan kegiatan matematika koheren, 3) pembelajaran matematika perlu teori yang komprehensif  terhadap kegiatan siswa, kesiapan mereka untuk belajar dan peran guru memfasilitasi mereka belajar, 4)  memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan konsep-konsep matematika, 5) perlu mengembangkan penilaian tertanam untuk mengajar proses belajar, 6) menggunakan berbagai sumber belajar.
Sekolah berbasis kurikulum menyatakan bahwa matematika di sekolah dasar dan menengah harus mendukung siswa untuk berfikir secara logika, mampu menganalisis, sistematis, kritis, kreatif, dan mampu bekerjasama dengan teman yang lain. Kurikulum menguraikan tujuan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut: (1) memahami konsep matematika, untuk menjelaskan hubungannya dan menerapkannya untuk memecahkan masalah secara akurat dan efisien, (2) untuk mengembangkan keterampilan berpikir untuk mempelajari pola dan karakteristik matematika, (3) untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang mencakup memahami masalah, menguraikan model mathmatical, memecahkan mereka dan memperkirakan hasil, (3) untuk mengkomunikasikan ide-ide matematika dengan menggunakan simbol, tabel, diagram dan media lainnya, dan (4) untuk mengembangkan apresiasi dari penggunaan matematika dalam kehidupan  sehari-hari.
Untuk mewujudkan sekolah berbasis kurikulum, diperlukan adanya bahan ajar yang menunjang, salah satunya adalah buku bacaan. Untuk membuat buku bacaan yang komunikatif dan menunjang proses belajar mengajar, terdapat beberapa langkah, yaitu : mendapatkan ide, mempersiapkan rencana informal, mencoba menulis untuk yang pertama kali, dan berkolaborasi dengan pihak publisher.
read more “ ”
GERAKAN REFORMASI UNTUK MENGGALI DAN MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MATEMATIKA UNTUK MENGGAPAI KEMBALI NILAI- NILAI LUHUR BANGSA MENUJU STANDAR INTERNASIONAL PENDIDIKAN
Oleh : Dr. Marsigit, M.A

Summary by Aris Kartikasari (09313244005)
9 September 2011
Economic crisis in Indonesia several years ago have many impacts on various aspects of our life in Indonesia, such as in political, economic, legal and education as well. In order to prevent the return of economic crisis in Indonesia, it is necessary reforms in all fields, one of which is the reform in education. Because education can provide a foundation for the development of the noble values ​​of the reforms in various other fields, such as legal reform, political, economic, cultural and others.
Reform movement in Indonesia is the anticlimax of a state where moral values ​​in the political, legal, social, economic decline very sharply in a period of more than three decades. The powerlessness of the community in many aspects is a direct implication of the deflection direction of development that makes people just as an object rather than as subjects. education system from macrofinance shows characteristics of a rigid centralism, with a very strong dominance of bureaucracy, so that at every level of educational stagnation. Creativity or improvisation towards innovation is very difficult because of national education systems tend to follow the guidelines from above. Our current educational system also is still closed so fosters corrupt practices and collusion.s
Meanwhile, if we viewed in microfinance, the practice of education in Indonesia is still relying on the teacher's role as a spearhead of the government in implementing education rules. But the importance the role of teachers has not been matched by the government's awareness to empower them. In their position that's needed but did not get attention from the government, many of our teachers have stagnated is not able to develop the creativity of teaching because there is no room for it. Research has been conducted in schools show that teachers prefer to apply the methods of learning as directed the Principal, School Overseer or Supervisor rather than experiment or try other ways, because it is more demikain provide security and peace for them (Marsigit, 1996).
Education is a conscious effort to develop the knowledge, skills and personality of the subject students. In the short term, education means teaching and learning in the classroom; in the medium term education means students complete the subject development, and in the long run education is a cultural phenomenon involving moral values​​, aesthetic and cultural. Reform of education towards the new Indonesia should be able to see the whole context of the above so as to provide fresh air and a new horizon for the entire educational component. In order for the reform movement in Indonesia may see the need in the future and stop the policy of mismanagement and abuse of power in an arbitrary manner we need to hold a thorough overhaul of a system in all aspects of life including education. National Education Reform should be able to reflect on past circumstances, present, and future.
Tilaar (1999: 22) states that the education reform agenda should include: (1) reducing of corruption, collusion, nepotism and cronyism (2) Implement the principle of professionalism (3) Desentralisasion education management and curriculum content (4) Improved quality of basic education and finishingcompulsory 9-year study, Improving the quality of general secondary and vocational schools (6) Improving the quality and autonomy of higher education (7) Development of alternative education (8) Improving the quality of the teaching profession (9) Financing of a democratic education (10) Rules and regulations (11 ) Empowering learners subjects. "Clean educational system" needs to be developed from the central to local level.
Educational reform at the micro-level means of education reform at the level of instructional practices conducted in school classes by teachers. Educational reform at the micro level can be measured how far the teacher is able to shift to reflect the style of teaching from 'traditional' to more 'progressive'. Meanwhile, an overview of the practice of teaching elementary and secondary school teachers in Indonesia is a prominent role in determining all the activities of the students (teacher-directed) they use most of the time to give (Convey) information to students (Jomtien, 1994). Research has been done that more teachers serve as the command / instruction, questions, explanations and tasks; students are less motivated to learn from each other with each other. Teachers have difficulty in handling abilities of different students; have difficulty in applying an active student learning; have difficulty in exploiting resources in particular teach-visual media or device (Marsigit, 1996).
Mathematics is the base of knowledge that exist today. Mathematics cover all aspects of life, because mathematics itself evolved through various problems in real life. There are several approaches to explain mathematics, namely: ontologically, seek understanding according to the deepest roots and basic math facts. Secondly, through the epistemological approach, defines the mathematics through the word more understandable. The third, through axiological approach, studying the nature and values ​​contained from mathematics. The value of mathematics can be seen from the context of the ontological, epistemological and axiological within the limits of intrinsic value, extrinsik and systemic. For a self-learner of mathematics so that the lowest value of mathematics is that if only his own use, a higher value if the math can be used for public interest. But the highest math scores is if systemically can be used for wider interest. But the values ​​of mathematics are developed should be coupled with critical thinking because the math is none other than critical thinking itself.
There are various criteria regarding international standards. In the field of education the standard of both national and international standards can be developed through the realm of curriculum and syllabus, educational ability, readiness support facilities, supporting books, etc. But to get to the international standards not only about it all, but more than that. At least we can examine the international stantad terms of legality and of the substantial side.

powermathematics.blogspot.com
read more “ ”

11 Januari 2011

aku



Dulu ngerasa hidup itu mudaaaaaahhhh... tinggal menjalani aja apa yg Alloh kasih.. deket sama kedua orang tua emang hal yg paling nyenengin dalam hidup.. selalu bersandar dan mengandalkan mereka berdua membuatku agak manja.
aku ga pernah berpikir meninggalkan rumahku yg biasa aku berteduh, terlebih kedua orang tuaku yg selama ini jd tumpuan.. tapi ternyata hal itu aku alami jg.
waktu cepat sekali berlalu, ternyata susah menjadi orang dewasa, harus mencoba hidup mandiri, awalnya aku ngerasa seneng bisa apa2 sendiri, tp kadang sifst kekanak2anku merajai, apa2 pengennya yg enak dan instan..
suliiiit bgd rasanya buat orang seperti TK ini belajar mandiri, sedikir tersentuh langsung jatuuuuhhh..
TK ingin belajar suatu hari kelak, buat setidaknya membuat kedua orang tua yg selama ini berjuang buat TK bisa bahagia. itu impian TK sejak keciiiillll..bisa membuat kedua orang tua TK tersenyum.
sejak kecil TK selalu berusaha kasih yg terbaik-misalnya aja lewat rapor-, tp makin kesini rasanya lebih sering bikin repot mereka.
berharap hari2 kedepan lebih maju dan berhasill,, luvyu mom pap..from TK in Jogja...
read more “aku”

10 Januari 2011

song joong ki 'he's cutest'

liad de,, joong ki oppa ma anjingnya...
foto ini dibuat untuk film terbaru oppa...Heart is 2..
cuteee bgd ga si???
anjingnya lucu..mereka berdua super klop..
yang satu pitanya taruh dikerah,,yang satunya dijadiin bandana..so cyuuuuuteeeeee.....
gaya tidur joong ki oppa maniiiiiiiiiiiiiiiiiiisssssss...^^
annyonghasseyoo..
joong ki imnida...
ini anjingkuuu....so cuteeeee....^^
read more “song joong ki 'he's cutest'”